Tuesday, July 29, 2008

Malam Pertama

Ini bukanlah malam yang penuh kenikmatan duniawi
Bukan pula malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

Ini adalah malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak-saudara

Hari itu ... mempelai sangat dimanjakan
Mandipun ... harus dimandikan
Seluruh badan kita terbuka
Tak ada sehelai benang pun menutupinya

Tak ada sedikitpun rasa malu
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang-lubang itupun ditutupi kapas putih

Itulah sosok kita
Itulah jasad kita waktu itu

Setelah dimandikan, kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih Kain itu jarang orang memakainya
Karena bermerk sangat terkenal bernama kain Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju kita
Bagian kepala, badan, dan kaki diikatkan

Tataplah ... tataplah ...
Itulah wajah kita
Keranda pelaminan ... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian ...

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul kita
Diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Diiringi rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah dzikir
Akad nikahnya bacaan talqin
Walinya adalah liang lahat
Saksi-saksinya nisan-nisan yang telah tiba duluan
Siraman air mawar pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya ... tibalah masa pengantin ...
Menunggu dan ditinggal sendirian ...
Tuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah kehidupan

Malam pertama ... ditemani rayap-rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah ...

Dan ketika 7 langkah telah pergi ...
Kitapun ditanyai oleh sang Malaikat ...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur ...
Ataukah Siksa Kubur ...
Kita tak tahu ... dan tak seorangpun yang tahu ...

Tapi anehnya!!!
Kita tak pernah galau ketakutan!!!
Padahal kita tidak tahu nikmat atau siksa yang akan kita terima!!!

Kita sungkan sekali meneteskan air mata ...
Seolah barang berharga yang sangat mahal ...

Dan Dia akan menetapkanmu ke syurga ...
atau melemparkan dirimu ke neraka ...

Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga ... tapi ...
Tapi ... sudah pantaskah sikap kita selama ini ...
untuk disebut sebagai ahli syurga

Sahabat ... mohon maaf ... jika malam itu aku tak menemanimu
Bukan aku tak setia ... bukan aku berkhianat ... tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan

Tapi percayalah ... aku pasti kan mendo'akanmu ...
Karena aku sungguh menyayangimu ...
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga
Aku berdo'a ... semoga kau jadi ahli syurga ...
Aamien ...

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran".
(QS 103:1-3)

*****************

* tulisan di atas disalin dan diedit seperlunya dari kontribusi Gus Kholik atau Eko Suharsono (arso_1968@yahoo.co.id) yang dikirim ke milis tkdt@yahoogroups.com

Friday, July 25, 2008

Body Mass Index

Body Mass Index (BMI) adalah alat untuk menunjukkan status nutrisi kita.

Definisi BMI = berat (kg) dibagi tinggi kuadrat (meter persegi).

Contoh.
Seseorang dengan berat 70 kg dan tinggi 175 cm, maka BMI-nya = 22.9.

Untuk usia di atas 20 tahun, WHO telah merumuskan kategori BMI sebagai berikut:

Below 18.5 = Underweight
18.5 - 24.9 = Normal
25.0 - 29.9 = Pre-obese
30.0 - 39.9 = Obese
Above 40 = Very obese

BMI ideal adalah 21.7, tepat di tengah range normal.

Ini berarti dengan tinggi 170 cm, berat badan idealku adalah 63 kg.
Insya Allah aku menuju ke sana, sebagai upaya sadar untuk menjaga kesehatan pemberian Allah.

Tuesday, July 22, 2008

Hari Pertama Sekolah

Besok insya Allah hari pertama Nadya masuk TKIT As Salaam.
Duh senengnya dia, liat aja tuh waktu uji coba pake seragam.
Thanks to Allah, Sang Maha Pemberi Kemudahan.


Monday, July 21, 2008

Bahagia di Atas Penderitaan Ban

First home visit, 18 Mei 2008.

Satu ban harus ditambal tubeless.
Mungkin karena saking menderitanya menanggung beban 6 penumpang.
Dekat tambal ban, ada warung indomie - kami sempet maem di situ sebelum foto ini diambil.
Dan itu cukup menjelaskan kenapa ada 'partikel-partikel krupuk' yang menempel dekat bibir Affan.



Thanks to my lovely wife for taking this lovely picture.

Tuesday, July 8, 2008

Ultah Kyle



Kyle Hartwig, satu dari tiga mahasiswa dari US yang saat ini sedang menjalani program internship di Holcim Vietnam, merayakan ultah sederhana, 7 Juli kemaren.

Yang hadir:


Kiri: Hanh, Jennifer, Kyle, Nam.
Kanan: Lan, chi Anh Hoa, Khuon.


Khuon, Thuy Anh, Aruna Nishantha


Kyle pas buka bingkisan ultah, dibantu Jennifer.

Saturday, July 5, 2008

Teman Setia

Aku tidak pernah bertemu fisik dengannya.
Aku tidak pernah berkenalan dengannya.
Tapi aku mengenalnya, walau dia, aku yakin, tidak mengenalku.

"Perkenalan sepihak" ini tidak menjadi hambatan buatku untuk menjadikannya teman setia.
Bahkan, tatkala dia sudah tiada.
Dia tetap menjadi teman setiaku.
Tiap hari aku mendengarkan suaranya.
Indah, merdu, tapi tidak cuma itu.

Dia mengalunkan lagu yang menggugah kesadaran.
Setiap aku mendengarkannya, dengan membuka mata hatiku, hampir pasti, aku akan meneteskan air mata.
Betapa besar jasanya, yang terus membantu mengingatkanku tentang hari yang pasti akan datang.
Saat mana mulut terkunci, tangan dan kaki kita bicara.
Menjadi saksi tentang apa saja yang pernah kita lakukan, dan ke mana saja kaki kita melangkah.

Chrisye,
Insya Allah jasamu ini menjadi amal jariyahmu yang abadi, yang menuntunmu kepada ampunan dan surga-Nya.

Di saat orang ramai mendiskusikan boleh tidaknya ayat al-Quran atau adzan dijadikan ringing tone di ponsel kita, aku merasa sangat nyaman untuk menggunakan lagumu saja.

Sebuah artikel untuk mengenangmu ...

* * *

Artikel Taufik Ismail tentang Krismansyah Rahadi (Chrisye)
Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi
(1949-2007) di majalah sastra HORISON.
Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA
TAUFIQ ISMAIL

Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan.

Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, "Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu.

Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A'uudzubillaahi minasy syaithoonirrojiim. "Alyawma nakhtimu 'alaa afwaahihim, wa tukallimunaa aydiihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti.

Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagu tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon, "Chris, alhamdulillah selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, "Chrisye? Sebuah Memoar Musikal", 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65 ..." kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia,
saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang!

Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan
luar biasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna
Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.

* * *

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya.

Chrisye terkejut. "Kenapa Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau
berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ' kan?"

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.

* * *

Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Aamien.

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik: Taufiq Ismail
Lagu: Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya ... sempurna
Mohon karunia

Kepada kami
Hamba-Mu yang hina ...


1997

* * *

Tuesday, July 1, 2008

Tabungan

Tabungan di dunia adalah harta sesaat.
Tabungan di akhirat adalah anak
shaleh yang taat.
Ajarkan mereka mencintai Allah.
Salam 165
(ESQ Message on 03.04.2008)


Nadya, salah satu 'tabungan' kami, insya Allah.