Saturday, September 27, 2008

Dan Wanita Itu pun Menjauh

Soal memilih nada dering hp, setiap orang punya selera sendiri-sendiri.
Ada yang milih lagu yang dia gemari, ada yang milih suara kocak tertentu.
Ada juga yang terlebih dulu merekam suara anaknya, atau suara tawa bayinya, lalu dijadikan nada dering.

Saya memilih "Ketika Tangan dan Kaki Berkata"-nya Chrisye.
Dan itu tidak hanya untuk nada dering.
Nada sms, nada reminder, pake lagu ini juga.

Pagi ini, 06.20 saya sudah berada di bundaran taman di housing estate Hon Chong menunggu shuttle bus yang akan menjemput mereka yang ngantor hari ini.
Tepat 06.21 suara Chrisye mulai terdengar.

Baru saya teringat bahwa saya memang pasang reminder di 06.21 untuk segera keluar rumah dan menuju bundaran taman.
Ini karena kadang-kadang shuttle bus sudah meluncur meninggalkan housing estate jam 06.25.
Meski resminya seharusnya jam 06.30

Tapi pagi ini saya sudah di bundaran sebelum reminder berbunyi.
Saya tidak lagi memikirkan tentang reminder itu.
Pikiran saya justru terpusat pada suasana yang tak biasa.
Melihat taman, pepohonan di sekeliling, desir dan semilir angin.
Lalu karena reminder-nya bunyi, terdengarlah melalui earphone alunan Chrisye, yang membawakan Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Lagu, yang liriknya berasal dari Quran Suci, Surat Yasin ayat 65.

Akan datang hari ...
mulut dikunci ...
kata ... tak ada lagi ...
Akan tiba masa ...
tak ada suara ...
dari ... mulut kita ...
Berkata ...

Di depan taman dalam kesendirianku ...
Suasana hati dan alam yang menyatu ...
Suara khas Chrisye yang merdu ...
Membayangkan mulutku kelak yang terbelenggu ...
Aku meneteskan air mata ...
Tepat ketika terdengar suara langkah kaki di belakangku.
Ternyata Ms. Dieu, HR Supervisor untuk Hon Chong plant.

Saya coba kuatkan diri ini untuk mengucapkan selamat pagi kepadanya.
Tapi tidak sempat mengusap air mata.
Situasinya menjadi mudah bagiku karena dia melihat sebuah hp tergenggam di tanganku dan earphone nempel di telingaku.
Aku jelaskan kepadanya tentang lagu yang membuatku menangis.
Lagu tentang masa depan.
Tentang mulut yang tak bisa bicara.
Tentang tangan dan kaki yang akan bersahutan, menjadi saksi atas apa saja yang aku lakukan selama masih di dunia.

Ms. Dieu hanya mendengarkan sebentar.
Lalu dia pun menjauh.
Ini sesuatu yang tak biasa.
Kami biasanya ngobrol, seputar manpower.
Bahkan baru saja kemaren kami diskusi tentang employee performance.

Aku tidak tahu apa yang terjadi.
Yang kutahu, wanita punya perasaan yang lebih peka.
Mungkin dia juga meneteskan air mata di kejauhan sana.
Walloohu a'lam.

No comments: